Alexandra sebuah nama
apa arti semua nama?? kata shakespeare
Nama adalah doa, begitu katanya
Alexandra sebuah nama
nama yang disandang angkuh pemiliknya
tak kenal kompromi jika terganggu
tetapi selembut ibu pertiwi bila jatuh hati
Alexandra sebuah nama
nama yang jarang terucap walau oleh pemiliknya
tapi apalah arti ucapan, jika makna tidak tertera
maka, biarlah nama itu tetap membisu dalam makna
Alexandra sebuah nama
aku suka nama itu dan mungkin bukan hanya aku
nama masa lalu yang masih menunggu dan menanti
Menanti diujung senja yg mulai memudar merahnya
~ Mulai hari ini, saya akan unggah puisi atau catatan dari kawan-kawan dekat saya, semoga bisa menikmati~
setiap keping huruf hanyalah yang terlintas dalam kehidupan yang ramai, yang sunyi, yang gembira, yang perih, yang khayal...
Rabu, 02 November 2011
Senin, 24 Oktober 2011
~ pagi ini aku sarapan gundah ~
biasanya kusiapkan semangkuk oatmeal untuk tenagaku
dan kuseduh seperempat liter teh hijau hapus dahagaku
namun pagi ini berbeda
berbeda karena bukan uba rampen itu yang kujumpa
kudengar di luar awan bergulung-gulung
gemuruh petir bersebadan dengan kilat yang menyambar gahar
lalu hujan bagai air bah merontokkan sendi-sendi bumi
aku kehilangan nafsu makanku
hingga tertatih kukumpulkan nyaliku
untuk duduk di pangkuan semesta
berangkulan dengan langit menatap resah
suap demi suap kujejalkan gundah
Jakarta 24 Oktober 2011
dan kuseduh seperempat liter teh hijau hapus dahagaku
namun pagi ini berbeda
berbeda karena bukan uba rampen itu yang kujumpa
kudengar di luar awan bergulung-gulung
gemuruh petir bersebadan dengan kilat yang menyambar gahar
lalu hujan bagai air bah merontokkan sendi-sendi bumi
aku kehilangan nafsu makanku
hingga tertatih kukumpulkan nyaliku
untuk duduk di pangkuan semesta
berangkulan dengan langit menatap resah
suap demi suap kujejalkan gundah
Jakarta 24 Oktober 2011
~ menelan dendam ~
aku perawan yang basah oleh khayal
bercumbu dengan sekawanan rindu
dan kemudian diperkosa jaman
rusak bagai keju yang kelamaan
sedang kamu menggulung tawa dengan gegap
mengais cinta pada aspal yang beku
bercanda dengan takdir
bagai lupa bahwa kamu hanya manusia
ingin kutikam hatimu dengan rapalan doa sesat
agar tubuhmu lantak menyatu dengan tanah
ingin kujejalkan kutukan semu
pada otakmu kaku tak bergerak
tapi Tuhanku berkata lain
diberiNya ku buntalan kasih yang tak bertepi
hingga akhirnya aku mengerti bahwa
sendiri adalah kawanku yang sejati
bukan kamu
Jakarta 24 Oktober 2011
bercumbu dengan sekawanan rindu
dan kemudian diperkosa jaman
rusak bagai keju yang kelamaan
sedang kamu menggulung tawa dengan gegap
mengais cinta pada aspal yang beku
bercanda dengan takdir
bagai lupa bahwa kamu hanya manusia
ingin kutikam hatimu dengan rapalan doa sesat
agar tubuhmu lantak menyatu dengan tanah
ingin kujejalkan kutukan semu
pada otakmu kaku tak bergerak
tapi Tuhanku berkata lain
diberiNya ku buntalan kasih yang tak bertepi
hingga akhirnya aku mengerti bahwa
sendiri adalah kawanku yang sejati
bukan kamu
Jakarta 24 Oktober 2011
Minggu, 16 Oktober 2011
~ mencumbu nafsu ~
sang kala menjentik-jentikkan jari pada tubuh mendewasa
memercikkan gelora yang menyala-nyala dalam sukma
membentangkan degup hingga ufuk datangnya surya
kamu ada di sana
lalu saat batin sekuat tenaga mempertahankan norma
berbenturan keras dengan apa yang kita agung-agungkan sebagai agama
sedang rasa sedemikian meraja
kamu masih di sana
aku bertahan pertaruhkan malam tak jadi pagi
lalu pelan kamu mengetuk nurani
membuatku betah berlama-lama
mencumbu nafsu yang kurasa ia bernama
Jakarta Oktober 2011
memercikkan gelora yang menyala-nyala dalam sukma
membentangkan degup hingga ufuk datangnya surya
kamu ada di sana
lalu saat batin sekuat tenaga mempertahankan norma
berbenturan keras dengan apa yang kita agung-agungkan sebagai agama
sedang rasa sedemikian meraja
kamu masih di sana
aku bertahan pertaruhkan malam tak jadi pagi
lalu pelan kamu mengetuk nurani
membuatku betah berlama-lama
mencumbu nafsu yang kurasa ia bernama
Jakarta Oktober 2011
~ cangkir ke sekian ~
kali ini kita duduk bersinggungan siku
dalam pemikiran sumir tentang gelap
tentang senja yang mengintip
berkerudung pekur
bisikmu, tunggu, aku punya sesuatu untukmu
kujawab, aku tak kemana, apa?
dari gelap kau sorongkan benda memancar kilau
kau sorongkan pula senyum bak kejora
kulemparkan pandang ke arah angin berwarna
lalu pada benda itu sambil memilin gugu
terasa sentak dahsyat luar biasa di dalam dada
memerindingkan kuduk serta merta
matamu memicingkan tanya : please?
kueja semua huruf dalam sanskerta, tanda gugup
telan pana pada kilau yang menyentak-nyentak
pada benda yang kutunggu-tunggu itu,
yang bernama cinta
De Luca, 12 Oktober 2011
dalam pemikiran sumir tentang gelap
tentang senja yang mengintip
berkerudung pekur
bisikmu, tunggu, aku punya sesuatu untukmu
kujawab, aku tak kemana, apa?
dari gelap kau sorongkan benda memancar kilau
kau sorongkan pula senyum bak kejora
kulemparkan pandang ke arah angin berwarna
lalu pada benda itu sambil memilin gugu
terasa sentak dahsyat luar biasa di dalam dada
memerindingkan kuduk serta merta
matamu memicingkan tanya : please?
kueja semua huruf dalam sanskerta, tanda gugup
telan pana pada kilau yang menyentak-nyentak
pada benda yang kutunggu-tunggu itu,
yang bernama cinta
De Luca, 12 Oktober 2011
Sabtu, 08 Oktober 2011
~ pinta kawan ~
sore itu dari puncak awan
kau selipkan rindu di sela-sela sukma
dengan tutur lirih berbungkus perih
menyemai luka makin dalam prana
"bukalah sedikit pintu itu untukku", pintamu
lembar suaramu berganti-ganti dengan deru angin cemburu
lalu terdengar awan bergulung-gulung memanggil hujan
"dingin", engkau menggigil
{lalu senyap. suaramu lamat. terlambat.}
Jakarta, 8 Oktober 2011
kau selipkan rindu di sela-sela sukma
dengan tutur lirih berbungkus perih
menyemai luka makin dalam prana
"bukalah sedikit pintu itu untukku", pintamu
lembar suaramu berganti-ganti dengan deru angin cemburu
lalu terdengar awan bergulung-gulung memanggil hujan
"dingin", engkau menggigil
{lalu senyap. suaramu lamat. terlambat.}
Jakarta, 8 Oktober 2011
~ nir ~
rumah yang kusebut cinta itu roboh mendadak
tak menyisakan sedikit pun rasa
bahkan curiga enggan sapa
ibarat mata, buta
siapa bisa kusalahkan lenyapnya cinta
kala hati jua hilang nada
ibarat suara, bisu
ibarat lidah, kelu
herannya, tiada aku berduka
linang air mata kutunggu-tunggu dengan takzim
pun enggan meluncur
nir
Jakarta, Oktober 2011 setelah sekian lama diam.
tak menyisakan sedikit pun rasa
bahkan curiga enggan sapa
ibarat mata, buta
siapa bisa kusalahkan lenyapnya cinta
kala hati jua hilang nada
ibarat suara, bisu
ibarat lidah, kelu
herannya, tiada aku berduka
linang air mata kutunggu-tunggu dengan takzim
pun enggan meluncur
nir
Jakarta, Oktober 2011 setelah sekian lama diam.
Jumat, 29 Juli 2011
~ harapan ~
masih berkawan sepi, bergulat ramai
ketika kau samar bilang rindu
dan kau bilang lelah bergelut dengan mimpi
yang tak kunjung nyata
katamu,"andai nyata itu menyapa, lalu menggamit kita"
"sungguh lelah rasanya berkejaran dengan dosa"
"dan melumat kepekaanku akan setia"
aku menelan ludah, terasa perihmu hingga ujung jiwa
sambungmu,"rasanya ingin jumpa mati saja"
"agar nirwana jadi tempat kita berlusuh-lusuh dengan cinta"
"dan perut kita kembung akan smaradhana"
aku menekur tanah, menangisi bumi
betapa, betapa rasa sering datang terlambat
dan kemudian memekik mendelik minta bicara
lalu....kau, aku menyerah
bahwa kenyataan tak selalu akur dengan harapan
Dalam SLJJ 2008-2011
ketika kau samar bilang rindu
dan kau bilang lelah bergelut dengan mimpi
yang tak kunjung nyata
katamu,"andai nyata itu menyapa, lalu menggamit kita"
"sungguh lelah rasanya berkejaran dengan dosa"
"dan melumat kepekaanku akan setia"
aku menelan ludah, terasa perihmu hingga ujung jiwa
sambungmu,"rasanya ingin jumpa mati saja"
"agar nirwana jadi tempat kita berlusuh-lusuh dengan cinta"
"dan perut kita kembung akan smaradhana"
aku menekur tanah, menangisi bumi
betapa, betapa rasa sering datang terlambat
dan kemudian memekik mendelik minta bicara
lalu....kau, aku menyerah
bahwa kenyataan tak selalu akur dengan harapan
Dalam SLJJ 2008-2011
~ munafik ~
lalu merdekalah kamu
hingga mengenai lingkar mega
yang laju iring-iringan menuju surga
lalu tertawalah kamu
penuh kemenangan, menandak-nandak meledek
melihat bunga jatuh gugur mati menendang bumi
lalu apa yang sebenarnya kau rasa
saat nuranimu tercekik gulita
dan dinding hatimu pun musnah ditelan sepi?
bahagiakah?
Jakarta 29 Juli 2011
hingga mengenai lingkar mega
yang laju iring-iringan menuju surga
lalu tertawalah kamu
penuh kemenangan, menandak-nandak meledek
melihat bunga jatuh gugur mati menendang bumi
lalu apa yang sebenarnya kau rasa
saat nuranimu tercekik gulita
dan dinding hatimu pun musnah ditelan sepi?
bahagiakah?
Jakarta 29 Juli 2011
Sabtu, 02 Juli 2011
~ ternyata masih ~
ternyata masih
(toujours)
it will never end
dan kamu
(et vous)
a man I always call : you
di sana
(là-bas)
so far away
dan tergantanglah jutaan asa
menempel pada kayu-kayu berjamur
lalu menjadi kerak pada hati yang kian merana
karena cinta
Jakarta, 2 Juli 2011 Selamat Ulang Tahun!
(toujours)
it will never end
dan kamu
(et vous)
a man I always call : you
di sana
(là-bas)
so far away
dan tergantanglah jutaan asa
menempel pada kayu-kayu berjamur
lalu menjadi kerak pada hati yang kian merana
karena cinta
Jakarta, 2 Juli 2011 Selamat Ulang Tahun!
Langganan:
Postingan (Atom)

