beriringan semut menyemut
menuju gelimpangan gula tercecer
mendulang haus makin haus
mencekik rasa
selalu ada yang mau saat merasa ampas
merubah ampyang mendadak pahit
tetap ada walau bukan
tetap tak bisa biarpun terpaksa
Jakarta 22 Desember 2011 "curcum perficio"
setiap keping huruf hanyalah yang terlintas dalam kehidupan yang ramai, yang sunyi, yang gembira, yang perih, yang khayal...
Kamis, 22 Desember 2011
Selasa, 20 Desember 2011
~ catatan untuk Ra ~
"kadang, melepaskan bayang adalah impian terbaik"
(catatan untuk Ra, sahabatku)
Sore itu aku sedang menikmati vanilla latteku bersama Ra, sahabatku. Sedang ia lebih memilih american coffee dan sepotong brownies untuknya.. Bercerita kami tentang rasa, cinta dan cita-cita. Dia dengan cintanya, aku dengan cita-citaku. Terlihat beban begitu menggelayut di sudut matanya, menyeret hatinya menuju tebing kegalauan. Ah apa yang selama ini kulihat darinya, ternyata tak sejelas sore ini. Betapa wanita yang satu ini pintar menyembunyikan apa yang dirasakannya. Berceritalah ia tentang kisah cintanya pada lelaki yang bukan miliknya. Lelaki yang dia rasakan sebagai cinta sejatinya, namun terhadang oleh banyak sekali kendala.
(catatan untuk Ra, sahabatku)
Sore itu aku sedang menikmati vanilla latteku bersama Ra, sahabatku. Sedang ia lebih memilih american coffee dan sepotong brownies untuknya.. Bercerita kami tentang rasa, cinta dan cita-cita. Dia dengan cintanya, aku dengan cita-citaku. Terlihat beban begitu menggelayut di sudut matanya, menyeret hatinya menuju tebing kegalauan. Ah apa yang selama ini kulihat darinya, ternyata tak sejelas sore ini. Betapa wanita yang satu ini pintar menyembunyikan apa yang dirasakannya. Berceritalah ia tentang kisah cintanya pada lelaki yang bukan miliknya. Lelaki yang dia rasakan sebagai cinta sejatinya, namun terhadang oleh banyak sekali kendala.
~ remedi tentang sanga ~
surya geliatkan hangatnya menyentuh muka bumi
aku masih termangu kunyah-kelanakan pikir
tentang semua yang telah kita lakukan
di mega nirwana penuh biru
dan memaksaku tanya pada keliman iman
"adakah ia mewujud?"
"ataukah ia hanya bayang lesu tentang nafsu?"
sementara degup cemburu menjamah raga
akan nyata yang terbentang bak lembah tanpa batas
menjaring rasa yang selalu membuatku lelah
walau ratusan abjad itu berkata sebaliknya
engkau mengukir senyum di lekuk darahku mengalir
engkau semaikan gairah tak terperi di hamparan jantung berdetak
menghentak
jika raga ini mampu bersaing kuat dengan hati
kan kubiarkan ia menantimu di ujung nirwana
membasuhmu dengan air cinta yang kuseduhkan hangat suam
kan kureguk bekas tetesnya mendulang ikhlas
mendaur ulang rindu
agar tercabik belasan puas sekali usap
mencandai rasa
tersadar bahwa engkau hanya butir halusinasi
hujamkan perih meledakkan angkuh
dan hatiku mengerjap kesakitan
tertoreh khayal
terpecut kangen
sedang harapan terkekeh melihatku berdarah-darah
menungguku mati
Sabtu, 17 Desember 2011
~ If ~
pukul dua belas lewat beberapa detik
dua insan masih bercumbu cakap
memindai kias dalam lembaran pesan
mentertawai kesepian
dan
dalam lantun nada yang persis sama
"if only I could turn back time"
"if...." aku mendesah
"if...." ia mendadak gelisah
jika jiwa ini terlahir dulu sebelum lipatan abad
kan kucarinya hingga ujung pelangi
dan berhenti di situ tak ingin beranjak ke masa kini
andai
andai ia di sisiku sekarang ini
kan kupintalkan smaradhana untuk membungkus batinnya
sebelum membiarkannya mandi puas yang tak lekang
dan bersama menyebut asma hyang
"if...."
menjelang subuh
dan kami masih bergelut cerita tak putus-putus
menjadikan asa kencan
walau kenyataan terlalu kelu untuk dirasakan
l a r a
Jakarta, 17 Desember 2011
"thank you for being my ever-lasting inspiration"
dua insan masih bercumbu cakap
memindai kias dalam lembaran pesan
mentertawai kesepian
dan
dalam lantun nada yang persis sama
"if only I could turn back time"
"if...." aku mendesah
"if...." ia mendadak gelisah
jika jiwa ini terlahir dulu sebelum lipatan abad
kan kucarinya hingga ujung pelangi
dan berhenti di situ tak ingin beranjak ke masa kini
andai
andai ia di sisiku sekarang ini
kan kupintalkan smaradhana untuk membungkus batinnya
sebelum membiarkannya mandi puas yang tak lekang
dan bersama menyebut asma hyang
"if...."
menjelang subuh
dan kami masih bergelut cerita tak putus-putus
menjadikan asa kencan
walau kenyataan terlalu kelu untuk dirasakan
l a r a
Jakarta, 17 Desember 2011
"thank you for being my ever-lasting inspiration"
~ perpisahan ~
sedang kusemai mangu yang mendadak datang
bercakap kami tentang perasaan
tentang cinta
berupa-rupa pertanyaan yang menggugat
kebanyakan : mengapa?
menyeret pada ujung lalu
saat kau gelandangkan nyata
memaksa dekap rasamu yang menggumpal
pada mimpi
pada khayal berwujud cinta
masih pantaskah kau mencinta kali kedua
jika hatimu melulu miliknya
lalu di manakah setia?
di manakah aku?
tak kah kau sadari hatiku meruyak?
kalbuku ngelu
pernyataanmu menggetaskan rasa
perih
kini
saat musik indah itu telah berhenti sempurna
kau kemas kecewamu menujunya
pulang
dan kubisikkan : selamat jalan
Jakarta, 17 Desember 2011
bercakap kami tentang perasaan
tentang cinta
berupa-rupa pertanyaan yang menggugat
kebanyakan : mengapa?
menyeret pada ujung lalu
saat kau gelandangkan nyata
memaksa dekap rasamu yang menggumpal
pada mimpi
pada khayal berwujud cinta
masih pantaskah kau mencinta kali kedua
jika hatimu melulu miliknya
lalu di manakah setia?
di manakah aku?
tak kah kau sadari hatiku meruyak?
kalbuku ngelu
pernyataanmu menggetaskan rasa
perih
kini
saat musik indah itu telah berhenti sempurna
kau kemas kecewamu menujunya
pulang
dan kubisikkan : selamat jalan
Jakarta, 17 Desember 2011
Kamis, 15 Desember 2011
~ dalam tujuh hari ~
apa yang kira-kira bisa terjadi dalam tujuh hari, menurutmu?
dan ketika aku tengah melara, membuta, mematikan rasa
sosokmu menyelinap di sela hati, mencuri
mengambil diam-diam sesuatu yang kuanggap paling berharga
cinta
dan ketika aku merela
engkau makin masuk, merangsek lalu duduk tenang di situ
aku?
merasakan angin ribut, menelan pucat, unjuk pasi
dalam tujuh hari semua bagai mimpi
ataukah memang ini hanya mimpi
yang seharusnya segera kulupa
dan kembali ingat
wahai Tuhanku Sang Maha Pembolak-balik Hati
padaMulah aku sungkurkan jutaan pinta
dan memohon-mohon agar dosaku Kau ampuni
tapi bukankah mimpi pun Engkau yang menguasai?
maka tak kan kudustai hati
karena Engkau pula yang mendiami
sejenak aku pasrah dan kembali menekuni
Segala puji bagi Tuhan Seru Sekalian Alam, angin ribut itu telah usai...
Jakarta 15 Desember 2011
dan ketika aku tengah melara, membuta, mematikan rasa
sosokmu menyelinap di sela hati, mencuri
mengambil diam-diam sesuatu yang kuanggap paling berharga
cinta
dan ketika aku merela
engkau makin masuk, merangsek lalu duduk tenang di situ
aku?
merasakan angin ribut, menelan pucat, unjuk pasi
dalam tujuh hari semua bagai mimpi
ataukah memang ini hanya mimpi
yang seharusnya segera kulupa
dan kembali ingat
wahai Tuhanku Sang Maha Pembolak-balik Hati
padaMulah aku sungkurkan jutaan pinta
dan memohon-mohon agar dosaku Kau ampuni
tapi bukankah mimpi pun Engkau yang menguasai?
maka tak kan kudustai hati
karena Engkau pula yang mendiami
sejenak aku pasrah dan kembali menekuni
Segala puji bagi Tuhan Seru Sekalian Alam, angin ribut itu telah usai...
Jakarta 15 Desember 2011
Selasa, 13 Desember 2011
~ the missing piece ~
ujung malam
awal cakap
dalam kendara gelisah yang menggeliat sepanjang sore
lalu gagap
gagap karena begitu lekat
bagai menjerat tak mau menyat
di situ hingga pintu pagi menguak
susah lepas
"biarkan aku jadi udaramu
menjadi ada, menjagamu agar selalu hidup
dan melapangkan asa hingga ia berubah nyata
sedang kau tetap menjadi air kehidupanku
di sana tenang-tenang menungguku"
pagi menerang
dan kita lelap dalam puas yang menjuntai
hingga senja tiba
berputar tak putus hingga akhir masa
"engkaulah bagian hidupku yang hilang
yang kucari wujudmu hingga ku buta
yang kucari suaramu hingga ku tuli
nyaris muskil
tapi aku rela"
Jakarta 13 Desember 2011, sore yang basah oleh suaramu...
awal cakap
dalam kendara gelisah yang menggeliat sepanjang sore
lalu gagap
gagap karena begitu lekat
bagai menjerat tak mau menyat
di situ hingga pintu pagi menguak
susah lepas
"biarkan aku jadi udaramu
menjadi ada, menjagamu agar selalu hidup
dan melapangkan asa hingga ia berubah nyata
sedang kau tetap menjadi air kehidupanku
di sana tenang-tenang menungguku"
pagi menerang
dan kita lelap dalam puas yang menjuntai
hingga senja tiba
berputar tak putus hingga akhir masa
"engkaulah bagian hidupku yang hilang
yang kucari wujudmu hingga ku buta
yang kucari suaramu hingga ku tuli
nyaris muskil
tapi aku rela"
Jakarta 13 Desember 2011, sore yang basah oleh suaramu...
Jumat, 09 Desember 2011
~ lalu aku ~
dan kemudian jiwaku mati
mati terbakar bersama ilalang yang tumbuh di ranah merah
hingga tercerabut dari segala rasa
tandas
percuma marah sebenarnya
karena toh amarah ku sudah tak punya
miskin rasa
hanya pana
lalu biarlah seluruh yang kupunya sirna ditelan angkara
lalu aku dan diriku menjadi sendiri
menjadi kawan sisa-sisa harga diri
kemudian lantak
Jakarta 9 Desember 2011
mati terbakar bersama ilalang yang tumbuh di ranah merah
hingga tercerabut dari segala rasa
tandas
percuma marah sebenarnya
karena toh amarah ku sudah tak punya
miskin rasa
hanya pana
lalu biarlah seluruh yang kupunya sirna ditelan angkara
lalu aku dan diriku menjadi sendiri
menjadi kawan sisa-sisa harga diri
kemudian lantak
Jakarta 9 Desember 2011
Kamis, 08 Desember 2011
~ bercakap dengan takdir ~
sapamu yang lembut meriakkan gelombang getar yang menderu-deru di dalam sana
meredakan segala resah yang membelengguku belakangan ini
menjawab berjuta pertanyaan yang bergulung-gulung
tentang kita
{andai sinar wajahmu bisa menular
kuingin raup semua hanya untukku
dan kubungkus dengan segenap rasa yang kupunya
agar kita selalu bersama
kau pernah bilang bahwa aku tiaramu
yang kau sunggi dengan jiwamu yang memancar kasih
kau bawa kemana saja hingga ujung waktu
karena cintamu}
lalu di manakah waktu?
masihkah kita punya?
sedang bukan hanya rasa yang kita pelihara
cinta hyang pun jadi belukar menawarkan perih
sejenak kau diam seolah labuhkan pikir pada angin yang datang tiba-tiba
katamu kemudian :
andai boleh memilih waktu, hanya engkau
meski waktu purna tugas digantikan oleh waktu yang baru
dan kita menjadi kupu-kupu
melepas angan dengan segenggam harap
agar selalu berdua bercakap dengan takdir
walau waktu baru silih berganti datang
walau tubuh tak kuat menyangga
selalu ada jiwa
yang mencinta
hingga moksa
hingga moksa
Jakarta 8 Desember 2011
seperti yang kuserap tentang Kara dan Kanaya
tentang kehidupan dan cinta yang tak berbatas
"terimakasih mas Dimawan Krisnowo Adji atas musik dan cerita yang luar biasa...:)"
meredakan segala resah yang membelengguku belakangan ini
menjawab berjuta pertanyaan yang bergulung-gulung
tentang kita
{andai sinar wajahmu bisa menular
kuingin raup semua hanya untukku
dan kubungkus dengan segenap rasa yang kupunya
agar kita selalu bersama
kau pernah bilang bahwa aku tiaramu
yang kau sunggi dengan jiwamu yang memancar kasih
kau bawa kemana saja hingga ujung waktu
karena cintamu}
lalu di manakah waktu?
masihkah kita punya?
sedang bukan hanya rasa yang kita pelihara
cinta hyang pun jadi belukar menawarkan perih
sejenak kau diam seolah labuhkan pikir pada angin yang datang tiba-tiba
katamu kemudian :
andai boleh memilih waktu, hanya engkau
meski waktu purna tugas digantikan oleh waktu yang baru
dan kita menjadi kupu-kupu
melepas angan dengan segenggam harap
agar selalu berdua bercakap dengan takdir
walau waktu baru silih berganti datang
walau tubuh tak kuat menyangga
selalu ada jiwa
yang mencinta
hingga moksa
hingga moksa
Jakarta 8 Desember 2011
seperti yang kuserap tentang Kara dan Kanaya
tentang kehidupan dan cinta yang tak berbatas
"terimakasih mas Dimawan Krisnowo Adji atas musik dan cerita yang luar biasa...:)"
Langganan:
Postingan (Atom)


