Kamis, 13 Januari 2011

~ percakapan sore ini ~

"Meanwhile...", katamu (hening)
"Apa?", tukasku
kamu menelanjangi rasaku, kau protes
melanjut,
padahal aku belum berkenalan dengan cinta
tidak sekarang, tidak juga nanti
"So?", tanyaku
apa yang kau takutkan, desakku
(aku mulai tak sabar)
sementara senja sudah menjemput
musti sekarang, tak mungkin nanti

"Whatever it takes, then...", suaramu akhirnya
"Misalnya?", belum puas aku
kamu bagai malam yang menghangat
siang yang mengguyur sejuk
(ah merayu lagi dia)
"Bosan", aku sekarang protes
kau bergeming,
kamu memaksaku bersalaman dengan cinta
dan itu lebih dari segala bumi dan isinya
kamu menjadikan aku laki-laki
"Belum cukup?" kau pangkas protesku. Telak.

Pecakapan sore ini di 7/11 Senayan, Januari 2011



~ obat hati ~

ketika hati melemah karena buta
menghitam pekat dimakan maksiat
dibelit belukar dendam kesumat
dengki melumat kerap

ketika sakit hati didihkan darah
iri menghiasi sudut-sudut bisu
tak terbilang riya' yang disangka bangga
undang gratis decak prasangka

ke manakah diri mencari obat
agar lepas semua beban
menjadikan hitam, putih
menjadikan dosa, bersih

tidakkah kita lupa
Kitabullah tumpahkan royal segala rahasia
betapa manusia siakan sedikit kesempatan
membaca dan jadikan ia obat begitu mudahnya

Al Hujjah, 13 Januari 2011


**Dan sekiranya Al Qur'an Kami jadikan sebagai bacaan dalam bahasa selain bahasa Arab, niscaya mereka mengatakan,"Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?". Apakah patut (Al Qur'an) dalam bahasa selain bahasa Arab sedang (rasul), orang Arab? Katakanlah, "Al Qur'an adalah petunjuk dan penyembuh bagi orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, dan (Al Qur'an) itu merupakan kegelapan bagi mereka. Mereka itu (seperti) orang-orang yang dipanggil dari tempat yang jauh" QS. Fussilat (41) : 44**

Selasa, 11 Januari 2011

~ melamar doa ~

alunan Gabriel's Oboe
menyusuri ruang religi
menciptakan doa-doa lirih
menawar takdir baru

getar dawai kehidupan masih mencabik luka
adakah rembesan darah menanah menjadi kering?
dan memberi lembaran kulit cinta baru?
lalu menyentuh ujung hati menjadi seri?

pintalan pinta masih mengalun
mengirim perih
mengharap sembuh
memintal andai

buku jari kian memutih
mengepal doa
Gabriel's Oboe berhenti sempurna

Jakarta, dini hari 11.01.11 kala terbangun karena sakit gigi
*terimakasih untuk adinda yang mengirimkan rangkaian musik indah Cinema Paradiso, aku mendengarkan*

Minggu, 09 Januari 2011

~ wanita kekayaan ~

sore ini mendung menjadi payung bumi
awan terlihat malu-malu mengintip di sela ketiak langit
hujan masih jauh dalam perjalanan
mungkin datang, mungkin juga enggan

kamu memalingkan wajah
saat kupanggil pelan
lalu punggungmu memandangiku
memberiku sekelumit kasihan

sepi menjadikan hatiku ramai
ramai oleh gerombolan pertanyaan
yang semua tak terjawab oleh kosongnya otak hati
belaka

sehelai kertas mengiyakan aku belahan jiwamu
tapi sorot matamu membalikkan fakta tertuang
telak
dan memperkosa cintaku padamu

dan kau terbahak pongah bergeming
berkaca pada bangga hingga menyentuh nirwana
aku ini hanya wanita kekayaan
melulu benda

*ditumpahi cerita tentang wanita yang menjadi kekayaan suaminya, bukan istri*
Jakarta 9 Januari 2011



~ cerita dari negeri suka-suka ~

ia termangu di ujung fajar
berpikir tentang dosa
yang panjang membuntuti
nggrundel
mengapa sulit membelit, desahnya
"saat aku begitu ingin merdeka
 melipat isi bumi
 meraup bimasakti"

hingga matahari membentur dahi
ia masih menekuni tanah
menghitung batu bagai hutang tuan
merelakan hatinya dipecut ketakutan
melepas segala cinta yang telah kering
dimakan ketamakan
merakus harapan
berkawan setan

aku memandangnya dari kejauhan
bukannya tak kasihan
tapi sungguh lidahku diikat aturan raja
mataku dibutakan pekak murka
ia masih diam bergelut pikiran dusta
bergelimang sanjungan semu setan berwujud manusia
dan menyumpal jantungnya dengan mimpi-mimpi palsu
di ujung senja aku tertawa, geli

Negeri Suka-suka, Januari 2011

~ rasa tanpa suara ~

s u b u h
kupandang dengkur halusmu
yang sedang asyik mengeja mimpi
menjadikan angan menyata,
ingin

k e r u h
coba jalin kata untuk setiap nafasmu
mengaduk rasa menjadi butiran font indah
agar terbaca,
gagal

l u r u h
tak semudah cinta yang menggumpal
melarikkan sebait sajak cinta
yang ternyata tertabrak sulit,
ah, betapa cinta tak butuh suara

PBR, mendung subuh 9 Januari 2011

Jumat, 07 Januari 2011

~ sulitnya bilang tak cinta ~

hujan masih mengencingi bumi
basah cumbui tanah lembab
memandang mata sayu merajuk
merenda serabut iba
meluluh

atap langit tanpa sangga
masih menggelap pekat
betapa sulit ludahi nyata
dan kembalikan rasa
bahwa aku tak cinta

Jakarta Januari 2011

Kamis, 06 Januari 2011

~ mahalnya kemungkinan ~


bagaimana malam mencintai pagi
jika subuh memintal pinta?
jika mentari merajuk manja?
jika pagi enggan menusukkan rasa?

bagaimana laut meminang pantai
jika butir pasir menggelinjang menantang?
jika ombak tak tenang ribut minta perhatian?
jika karang menggagahi buritan?

bagaimana bunga bergenit pada surya
jika madunya habis dihisap lebah kesatria?
jika mendung mengangkangi mega?
jika angin kasar mengusap rupa?

bagaimana cinta menawarkan labuh
jika rasa lenyap dilumat raksasa angkuh
bahkan iba mendera minta mati karena jenuh
bahkan!

Jakarta, 6 Januari 2011

Minggu, 02 Januari 2011

~ senja bercerita ~

dengus nafas
membelah jalan pasir
kasar
dungu

detak jantung
membias hingga atap horizon
berdenyar
mengharu biru

derap kaki
menghentak bumi
gencar
lunyu

asa
menuju metamorfosa
liar
k a m u.

Atap langit, 2 Januari 2011

Kamis, 30 Desember 2010

~ dua belas mimpi ~

aku dan dua belas mimpi dari dua tidurku,
dua tidur sepanjang malamku,
tidur yang dipisahkan oleh pendeknya waktu,
sependek mimpi-mimpiku...

samar masih bisa kuingat satu per satu,
membayang hingga pagi menjelang,
meninggalkan jejak hingga petang,
hanya jejak...

satu mimpi nyata menyakitkan,
bahkan menjebol ruang otakku,
biasnya menggelayut langkah kakiku,
dadaku sesak oleh sesal...

beruntung semua hanya mimpi,
mimpi yang  bersaing dengan khayal,
khayal yang kan diruntuhkan angan,
hingga nanti nyata datang, aku masih bermimpi...

Jakarta, sehari menjelang 01.01.11