Rabu, 03 November 2010

~ aku, kamu, dan purnama ~

semalam aku menunggumu,
seperti malam-malam sebelum tadi malam,
tapi berbeda kala pagi menjelang wungu,
aku ditemani purnama luna yang tak kelam,

bulat, sempurna..
sesempurna cintaku padaNya,
yang memilikimu, jiwa raga,
yang menggenggam rasamu, rasa cinta...

engkau yang kutunggu dengan tasbihku,
berseling rapalan cinta bersama dzikirku,
bisakah hati lurusmu mendengar wahai sang maja
dan mendendangkan asmaradhana?

aku masih menunggu lepaskan hak meminta,
karena rasaku telah kuserahkan paripurna padaNya,
Dia yang memilikimu mutlak,
maka aku hanya menunggu, lantak...

ibukota 29 april 2010, merdekaku hari ke 2..

~ majaku ~

kutemukan namamu sejurus hatimu dan cintamu,
di sudut hatiku yang riang semu,
semu karena sebenarnya kelu,
dan kau tahu itu...

kutemukan hatiku yang lemah karena cintaku padamu,
bergulat dengan baktiku yang kuserahkan nyata di atas pangkuanmu,
yang aku rebahi dengan cinta dalamku,
dan kau tahu itu...

lalu kutemukan nafsumu di seluruh peta tubuhku,
tubuh yang kepersembahkan hanya untukmu,
hingga kau lumat disemai hujan rindu,
dan kau tahu itu...

kunamai engkau majaku,
bagai tingginya, bagai durinya, bagai daun dan bunganya yang harum,
bagai obatnya karena memang engkau obatku,
obat rinduku pada Tuhanku...

kini hingga jauh,
kutemukan engkau masih majaku,
dan tak ingin kuganti dengan sesiapa yang mendatangiku,
karena cintaku telah kutancapkan pada bumiku yang hatimu,

...dan kau tahu itu...

Ibukota 1 Mei 2010, setahun setelah operasiku...

~ kuingin lupa ~

Demi Tuhanku yang Maha Cinta,
hanya ada Engkau dan dia...


kau ingin aku menyulam sabar,
dua belas purnama dari masa cinta,
namun perjalanan terhenti prasangka,
membelit seolah tanpa sisakan rasa...

kau ingin aku selesaikan perkara,
dan kini telah aku rampungkan cerita lama,
dua belas purnama dari janji surga,
namun semua menjadi sia-sia...

masih adakah angan seindah Naeruza?
atau hanya ada aku yang berkawan tanya,
jika cinta kita adalah karenaNya,
mengapa aku merasa akhir kita bukan karena DIA?

duh betapa kuingin lupa, tapi tak bisa...
Ibukota, 22 April 2010

~ rintih rindu ~

bukan aku jika tak mampu menahan rindu,
setelah tigaratusan hari kita senantiasa terpisah jarak,
dan bertemu di sela-sela daun cinta,
tapi akhirnya tahanku jebol lantak,

sesal berbilang cemburu yang runyak,
dan aku yang merugi,
karna kau bagai membungkam rasa,
masihkan aku bersantai di hatimu?

kuhitung per duapuluh empat jam,
agar segera bisa terbang ke dalam pelukmu lagi,
seperti dulu,
peluk rindu...


Jakarta, 22 Maret 2010

~ wanita di persimpangan ~

namanya sunarti
berjilab, mungkin untuk menutupi botaknya
mungkin juga karena Tuhannya
kulitnya gelap, tapi senyumnya memikat

bercerita dengan semangat tentang obat
sambil sesekali gigi putihnya berkilat
masih memikat,
kulihat dadanya rata sebelah
karena jahaman itu, pelan mendesah...

bercerita tentang juta terbuang
tentang ribu upaya
tentang kekasih setia
tentang anaknya yang cinta...

dia seperti aku
adalah wanita di persimpangan harap dan pasrah
dia seperti aku
akan bertahan selama kami bisa...


untuk berjuta wanita yang berlawan kanker di luar sana
RSPP 20.11.09

~ cegek ~

kukira aku nomor satu,
aku lupa ada skala di sana,
urutan turun mendadak tidak di satu,
barangkali lima atau dualima...

kutelan fakta sekarang,
nyata sudah semua tak lagi indah,
dan hakku tak bisa berang,
harapan mendadak lenyap sudah...

kuserap semua semoga bukan bohong,
agar yang terjadi bukan kesiaan,
terimakasih kau buat hatiku bolong,
lengkap sudah cinta tenyata bukan teman...

"sumpah cegek!"

*Cegek adalah bahasa Jawa dialek Surabaya yang artinya kecewa

~ sajak cinta sabtu sore ~

sambungku pada tanya cintamu,
iya..aku cinta padamu,
cinta pada seluruh lekuk tubuhmu,
yang harum laksana bunga melati bersemi pagi-pagi..
cinta yang tak'kan padam oleh guyuran amarahku,
pun semburan cemburuku...

sambungmu pada jawabku,
cintaku lebih dari cintamu,
cinta walau kau tinggal aku tertidur pulas setelah kita lelah bercinta,
cinta pada amarahmu,
pada cemburumu..

engkaulah kekasih yang melumat habis rasaku,
menggelinjang diam-diam tak sesuarapun,
menghias malam-malam ku sendiri,
engkaulah kekasih yang selalu menemani,
saat aku menyemai bulir kecewa dalam-dalam..

akankah cinta kita berjalan bersama menembus gelap mega? tanyaku,
bijak kau senyum bak menahan rasa,
usah panjang tanya, jawabmu,
ikuti saja semua keloknya,
di ujung sana Tuhan meridha..

Sabtu sore kala menemanimu di tengah tahun 2009

~ nul ~

kala kami tidak saling menyetuh,
raga apalagi hati,
maka tak ada lagi yang harus dilayakkan,
jasadku mati, apalagi hati..

dan hadirnya lelaki pujaan di seberang jalan,
seakan menciptakan cinta,
padahal hanya fatamorgana berjumlah jutaan,
maka duli aku menjanda,

menjadi janda pada tiang-tiang bisu,
menjadi janda pada entah hati siapa,
hingga aku kawini monyet-monyet tak berhati,
bukan laki-laki, kera iya...

Untuk sahabatku "H", bekallah kesabaran, maka kau akan menang...
Jakarta, 17 Juli 2009 - tragedi Kuningan II

~ cemburuku menyerah ~

saat benih mulai tumbuh merunyak rahimku,
rahim yang kau bilang sarang cinta,
lalu aku menggelinjang nikmat,
sampai kapan? desah jantungku...

sampai kau aliri sawahnya yang kering,
supaya kematian tidak menyentuhnya, dalihmu..
aku meludah ujung kakimu diam-diam,
walau rahimku masih berdenyut...

rupa tak kenal cinta,
engkau memilihnya bukan aku,
dan aku tertinggal tertatih menahan geram,
marah tapi aku menyerah...

dari ujung Benoa, tigajuliduaribusembilan

~ ragu ~

usah kau tanyakan lagi cinta tersisa,
sebaiknya tanya jiwamu apakah gelinjang itu ada,
sewarna swarga yang merunak dalam-dalam,
di hatiku menari...

karena,
karena cintaku tumpah ruah di dalammu,
yang mungkin belum kau nyana gegapnya,
mungkin belum kau dengar guruhnya..

kekasihku,
penghuni mimpi, pengisi cita, pengukir harap,
sekarang bukan waktu tanya,
sekarang waktu jawab..
kutunggu...

TPR, 21 Juni 2009
untuk segenap sahabat yang malu-malu mengakui cinta, percayalah cinta itu indah...