Minggu, 29 April 2012

~ kenangkanlah ~

baru saja kujumpai engkau dalam pertemuan singkat
satu di antara pertemuan-pertemuan yang hampir semuanya sengaja
kecuali yang pertama kali
yang dalam kekakuan teramat sangat

dan lalu, pada puluhan bahkan mungkin nyaris seratus pertemuan
pintamu selalu sama dan jawabku tak pernah berbeda
kita dalam kemuskilan yang nyata
hanya tinggal angan yang terlalu kuat untuk dilupakan

pertemuan tadi malam pun masih sisakan serak dalam rongga
dan justru menjadikan kenangan beku dalam kalbu
engkau dan sorot mata, dan kegugupan, dan ketulusan
dan aku berputar-putar dalamnya

lalu andai
lantas khayal
dalam dua otak dan hati yang bertautan
kecuali jasad
maka kenangkanlah

Jakarta, 29 April 2012, dalam SLJJ yang terlalu kuat...

Senin, 16 April 2012

~ bentang yang bernama cinta ~

pada malam ke seratus, engkau datang dan menghadiahiku tanya
yang ketika kujawab, engkau bungkam
hanya selarik senyum dan harum tubuhmu membahana
aku lunglai

demi bulan yang kering terjejal sesal
aku mengaku lemah dalam kesombongan yang demikian buruk
lalu ketika engkau merajuk,
aku mengamuk

engkau pernah bilang bahwa menghilang adalah tujuan
dan diam adalah kemewahan
lalu saat suaramu bersaing dengan deru kehidupan
aku lupa
aku lupa bahwa engkau cinta

hari ke seratus engkau membawa pergi duka
hari ke seratus aku benar-benar amnesia
inikah bentang?
inikah cinta?
entah

Surabaya mendadak basah di suatu waktu di awal 2012

Selasa, 10 April 2012

~ adakah langkah yang salah? ~

pada suatu sore yang berpasir
kamu menumpukan dukamu pada pundakku
dan mengucurkan tangis yang tiada henti
mengeluh lelah, namun enggan henti
mendamba damai, namun kerap benci
sebenarnya apa maumu?

lalu ketika sore perlahan meninggalkan ruhnya
kamu pun beranjak melepasku
membiarkanku terbekap kejut
secepat itukah?
padahal kutahu kamu tak tahan sendiri
terus terang aku jengah

kini, di tengah subuh yang menyajikan sunyi
adalah kamu di hadapan
kembali mengucurkan kesah, mendaraskan lelah
meruntuk kejadian yang telah lewat
dan menyesali berkali-kali
adakah langkah yang salah?

Jakarta medio Maret 2012

Kamis, 08 Maret 2012

~ I love you, mom ~

Sungguh tak mudah menjadi pasien penyakit yang mematikan itu, dan makin sulit ketika harus bisa menunjukkan bahwa semua akan baik-baik saja kepada anak sendiri. Namun, Allah sungguh Maha Luar Biasa, memperbolehkanku melewati masa itu dengan kekuatan yang kutahu dari cinta anak-anakku, Mimi salah satunya. Dan apa yang dituliskannya di bawah ini adalah apa yang dia lihat dan rasakan lalu ia tuangkan sebagai bahan ujian praktek bahasa Inggris kelas 9. Baginya menulis dalam bahasa Inggris bukan hal yang sulit, tapi bersikap jujur pada diri sendiri tentu tak mudah. 
Dan yang ia tulis di bawah ini melecut hatiku agar selalu eling.
(terimakasih mbak, I love you more...)



 I Love You, Mom

It was way back to the year of 2009. I was only 12 at that time. The last year of my elementary school, was filled with having the urge to take care of her. Always making sure I’d always be by her side in the bed. Even studying came second to me. She’s my first and utmost priority.

Yes, her indeed.

That beautiful woman lay on the white sheeted bed, my beloved mother.

Every time, and by that I mean every single time. Every single time me and both of my little sisters came home, we always did have this ritual going. Whole thing started since she came back to our domain from the everything-white-and-medical-scent-hovering-around kingdom. Yes, the hospital. Why, you asked? That monster attacked her. Definitely a monster indeed if I should say so. It was Cancer. That illness never seemed to cease lingering around my beloved mother. I knew she was in pain, and she was incredibly scared.

She’s still alive, indeed.

Because I know, she was fighting, for us.

And God, how I was and am glad to know that fact.

I spent most of those months and years in a particular room I’m so familiar with, at my mother's bedside. Her long fingers were so pale and had felt really fragile as if it would break if I squeezed them too hard. When at last I felt some slight pressure in response, I stared at her eyes. She met my gaze for just a moment before she closes them once again. I don’t know if it’s the antidote, the pain, or just the fact that she was dead tired. Could be all three of them, I never did knew.

I think I should thank to God now, that she’s still alive and much healthier. How she’s like after that monster got to her? She started to pray and believe more to God. Just exactly my prayers from back then and even until now, like they are all granted and it was truly a blessing to have her around again, without having to see her suffering in the bed. I can’t even imagine how she felt. I suppose it would be dreadful, to think that monster is still lingering. Defeated, but lingers, if you know what I mean. Cancer is a horrid disease, it was truly horrible. But even though made my mother’s life changed, it was still bad and I still won’t change my opinion about it. But then again, it seemed to leave trails of path to the right way of life. And now I love my mother even more. She’s truly the most amazing bless given by God to me. The most amazing mother I could ever wish for.

I love you, Mom...


Jakarta 8 Maret 2012

Senin, 27 Februari 2012

~ engkau adalah ~

engkau adalah bintang yang direlakan bulan untuk menjadi terang, lalu redup, lalu hilang, lalu datang ; direlakannya untuk menjadi ada

engkau adalah pagi, adalah siang, adalah senja yang tak kan pernah malam, selalu warna, tak pernah kelam

engkau adalah diam, adalah ramai, adalah diskusi-diskusi panjang tentang kehidupan-yang-tak-pernah-lulus-sampai-entah-kapan

engkau adalah cerita yang tak berkesudahan, bersambung, tak pernah pendek, tak pernah usai, walau titik koma telah lelah bekerja mati-matian di dalamnya

engkau adalah inspirasi yang tak pernah lenyap walau kadang aku harus mengais tangis agar engkau rela

engkau adalah bentang definisi yang senantiasa curah seakan tak pernah henti, walau otak seakan mati kehilangan kata-kata

Jakarta, dini hari 27 Februari 2012

Senin, 20 Februari 2012

~ penanda-penanda ~

warna-warna langit itu
menjadi lampu yang gemerlap bagi hati yang sedang kelam
oleh berbagai kepenatan hidup
kelelahan akibat terlalu gencar mencari apa-apa
ya dunia, ya cinta, ya hampa
bahkan hingga terlunta mengais sisa-sisanya di pelupuk sengsara
sampai rela mengemis pun

namun langit selalu setia memberi tanpa diminta
gratis menafikan lara
dan memberikan tanda, getar, pada hati yang ramai oleh sepi
...dan kamu
dan seluruh penanda-penanda yang datang serabutan tiap hari
...semua tentang kamu
menjadikan hati genap oleh rasa

lalu ayat-ayat suci tentang masa 
tentang manusia yang merugi kecuali yang memiliki bekal iman 
tentang kebaikan, kebenaran, kesabaran
maka kamu ada dalam ingatan
meski ragamu hanya bisa kubayangkan
namun hatimu tak habis oleh cinta
yang mungkin hingga akhir jaman setia memberi penanda-penanda

Jakarta 20 Februari 2012, di tengah nada-nada yang senantiasa memberi inspirasi 

Sabtu, 18 Februari 2012

~ selalu ada ~

dan kusadari dengan kapasitas yang tak pernah kau duga
tentang keberadaanmu yang senantiasa menciptakan ada
dan meniadakan ragu
tentang suaramu yang selalu berbisik
walau di tengah keramaian yang paling pekak pun
kusadari pagi ini

ketika fajar menawarkan hening yang lembut bagai kapas
dan menundukkan segala kantuk yang sengaja kutahan
lenyap tak berbekas demi mendengarkan suaramu
dalam hening
dalam sepi
kusadari pagi ini

bahwa engkaulah bintang
yang menjanjikan pendar lamat tak selalu terang benderang
namun selalu ada
seada suaramu yang bening
seada bisikmu yang kasih
bahwa engkaulah penghuni hati
selalu ada

Jakarta 18 Februari 2012

Kamis, 16 Februari 2012

~ kembali hampa ~

ketika ribuan kata melesat bersama busur rindu
dan berharap tepat menancap di tengah hati berpeluh
lalu melihatnya menggelepar
keringat mengucur deras
sederas itu rinduku

ketika bulan meledek terjengkang-jengkang menertawakan malam
yang setengah mati menghidupkan gelap
yang akhirnya pasrah membiarkannya sedikit terang
membiarkannya berdetak
sepasrah itu asaku

lalu di manakah cinta saat aku perlukan
saat engkau ada di hadapan, dan aku diam?
tak segegap gempita asa yang bergulung-gulung
bahkan baunya pun tak tercium dari kelok hati
lenyap tak berpendar seperti mauku dulu

atau bejana itu telah koyak oleh curiga
yang walaupun diisi jutaan kali selalu daras
lalu busur yang melesat seakan kembali memutar arah
dan bulan kalah terang dengan gelap
dan aku kehilangan kamu

Jakarta 16 Februari 2012 lewat SLJJ :)

Senin, 13 Februari 2012

~ pagi ini ~

pagi ini di ibukota
hiruk pikuk tersumpal dalam setiap kepala
yang berjejalan di jalan yang tak semua mulus
motor menyalip tak kenal sopan santun
metromini menggeram
dan membuang hajat asapnya sesuka hati
ibu-ibu hamil terpaksa menyesap dan melambungkan parunya
dan paru-paru janinnya
asap hitam menghajar siapa pun tanpa ampun

ibukota di pagi hari
terbentanglah jutaan mobil mengantri 
bagai ular naga tak berkesudahan 
kesakitan
terburu-buru
sumpah serapah
majikan-majikan yang tak mengerti peluh sopirnya
peluh yang bercampur khawatir mobil juragannya menyerempet
atau dicium percuma oleh motor ugal-ugalan

nun di lipatan jalanan Jakarta yang jarang ramah ini
aku mangu sambil mendengarkan radio
yang sedang putarkan lagu mendayu
diseling suara dua penyiar yang bersahutan
berusaha menghibur, walau kadang gagal
aku injak rem, injak gas, pegal
injak rem, injak gas lagi, tak apa
asal anakku tidak terlambat hari ini

Jakarta 7 Februari 2012

~ kala bintang menyapa sepi ~

dan bulan
dan bintang
dan matahari
tak pernah tinggalkan ia sendiri
bahkan bintang menyapa dengan caranya
dengan bahasanya yang tertatih
sedikit lamat
sedikit mencipta perih


Jakarta, Februari 2012